THE HOUND
By Robert Francis
Life the hound
Equivocal
Comes at a bound
Either to rend me,
Or to be friend me
I cannot tell
The hound’s intent
Till he has sprung
At my bare hand
With teeth or tongue
Meanwhile I stand
And wait the event
The Hound adalah sebuah puisi karya seorang sastrawan terkenal dari Amerika bernama Robert Francis yang hidup pada era 1901-1987, beliau banyak menghasilkan karya-karya sastra yang dikagumi oleh masyarakat pada masa itu, salah satunya adalah The Hound, meskipun merupakan puisi yang tergolong tidak panjang, puisi ini jika ditelaah lebih dalam ternyata memiliki makna dan pesan yang cukup mendalam. Sebelumnya saya memilih untuk menelaah puisi ini pada mata kuliah Telaah Puisi sekitar dua semester yang lalu, dan kali ini saya akan mencoba kembali menerangkan puisi dua belas baris ini dengan menggunakan metode Metasemantic Analysis dan Poetic Function Roman Jacobson untuk mata kuliah Stilistika.
Puisi ini bila dilihat dari aspek semantic, pengarang menggunakan perumpamaan seekor anjing (the hound) sebagai perwakilan dari kehidupan (life), sebagaimana yang dapat kita lihat pada bait pertama, kemudian dilanjutkan dengan kata “equivocal” yang menunjukkan sifat anjing yang tidak dapat diprediksi atau samar-samar, sama halnya dengan hidup yang kadang sangat bersahabat dan kita merasa senang jika takdir berpihak kepada kita, sebaliknya hidup juga bisa berbalik menjadi musuh kita yang seakan siap menerjang kita kapanpun, hal ini dapat dilihat jika kita memperhatikan baris berikut, “Comes at a bound, Either to rend me, Or to be friend me”, kita tidak akan tahu apa yang akan dating pada kehidupan kita sampai hal itu akan terjadi dan kita hanya dapat menunggu hingga hal tersebut terjadi. Simbol gigi dan lidah pada baris ke-10, “With teeth or tongue” merupakan penegasan atas apa yang telah disampaikan pada baris ke-4 dan 5.
Pada puisi ini dapat kita temukan bahwa pengarang tidak menggunakan rima yang biasanya terdapat pada puisi pada umumnya karena puisi initidak terikat dengan pola rima yang cenderung monoton, maka dari itu saya berasumsi bahwa pengarang memberikan penekanan khusus pada pemilihan kata yang menghasilkan bunyi tertentu dengan tidak melupakan esensi kata yang dipakai. Secara fonologi, kata rend dan friend menghasilkan bunyi akhir yang sama, dengan pemilihan kata seperti ini pengarang dapat memberikan penekanan dalam puisi tentang dua hal yang saling bertentangan (kontradiktif) sekaligus bersifat dissimilar menurut analisa poetic function. Hal serupa juga ditemukan pada baris pertama dan ketiga dimana kata hound dan bound terasa mendukung makna satu sama lain, yang berbeda dengan rend dan friend, kali ini pemilihan kata bound dan hound saling berkaitan dan bisa disebut similar.
Dalam sastra, seorang pengarang memiliki kebebasan untuk mengutak-atik tata bahasa yang lazimnya memiliki struktur tertentu menjadi suatu formasi yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam sebuah puisi meskipun hal tersebut menyalahi kaidah pemakaian kata dalam tata bahasa (semantik). Hal ini juga terdapat dalam puisi The Hound, saya sempat berpikir sejenak tentang apa yang dimaksud dengan “Life the hound”?, namun saya mulai beranggapan bahwa kurang lebih yang dimaksud adalah “Life is like the hound”. Contoh lain yang dapat kita terangkan disini adalah pengaruh bahasa Inggris modern yang tercermin dalam puisi ini, dimana kata-katanya sederhana dan tidak sedikitpun menggunakan kata dalam bahasa Inggris kuno. Pada baris 7 dan 8, “The hound’s intent, Till he has sprung”, pengarang menyingkat kata until menjadi ‘till untuk menyelaraskan bunyi akhir pada baris sebelumnya yang diakhiri dengan kata intent yang memiliki konsonan dengan golongan labiodental.
Demikianlah penjelasan singkat mengenai metasemantic analysis dan poetic function pada puisi the Hound, dari sini dapat kita simpulkan bahwa dalam sebuah puisi terdapat banyak elemen pendukung yang menjadi bagian penting dalam menilai estetika dan gaya berbahasa yang digunakan oleh pengarang dalam karyanya. Dengan pengetahuan mengenai stilistika, kita dapat melihat keunikan yang digunakan pengarang yang menggunakan perbandingan seekor anjing dengan kehidupan, dan dengan menggunakan metode analisa seperti yang telah kita lakukan kita dapat melihat sesuatu dari berbagai sisi.
0 komentar:
Post a Comment