Tuesday, March 31, 2009

Dari kami yang akan pergi

Kami hadir ketika gradasi senja mulai memudar
Kalian menyaksikan kami mendampingi sang surya
Yang sinarnya perlahan menjelang padam di ufuk barat
Satu persatu kami menyalakan cinta dan harapan
Dalam ruang hampa berselimut kegelapan semesta
Menjadi pelita-pelita kecil yang berpijar
Menerangi mimpi-mimpi sang pujangga malam
Memberi keteduhan bagi hati yang nelangsa
Melanjutkan perjuangan sang surya walaupun bukan di kala petang
Meskipun tak sebenderang mentari
Kami akan senantiasa menuntun para nelayan berperahu kecil
Dalam mengarungi buasnya samudera luas laksana tak berujung
Kami sadar sungguh terbatas kemampuan kami
Bagaikan kunang-kunang yang pasti akan kehilangan sinarnya
Semuanya akan berakhir, semuanya akan berganti dengan yang baru
Kami yakin akan adanya keajaiban, sesuatu terjadi untuk sebuah alas an
Sesuatu yang nantinya menjawab semua pertanyaan yang ada
Andai aku bisa, ingin aku tak akan menjadi dewasa
Agar aku dapat menemani setiap langkah kaki kecilmu
Walaupun detik waktu perlahan meredupkan cahaya itu
Meskipun pelita kami akan terhapus dengan sinar fajar
Dan perlahan hilang oleh terangnya pagi… tak terasa aku menitikkan air mata
Percayalah… kami akan selalu ada di balik bias biru atmosfer
Kami tak akan hilang dan tetap ada bagimu
Selalu hadir dalam konstelasi terindah bima sakti
Kami akan selalu ada untuk kalian
Untukmu semua… Dari kami yang akan pergi

Composed by : Dick Frozzy & HENTAI POETS SOCIETY
Performed by INCREDIBLE featuring HENTAI POETS SOCIETY
The 28th Anniversary of PERISAI FIB-UH - March 31, 2009

Wednesday, March 04, 2009

DALAM KESUNYIAN MALAM

Dalam kesunyian
malam

Kerinduan yang
membara dalam kebekuan malam

Menyadarkan ku
akan secercah harapan yang menungguku

Di antara pintu
logika dan kenyataan

Terbawa kembali
kenangan yang bersemayam dalam memori

Akan seseorang
yang memperbudak hatiku dengan tatapannya

Yang tak
memberiku kesempatan untuk menolak

Ketidaklaziman
pun terjadi

Tak peduli
dimanapun ku pijakkan kakiku di atas bumi

Ku selalu
mengharapkan dirinya

Keramaian manusia
laksana sebuah bayangan diri yang mengikuti

Sama sekali tak
berarti di antara sinar mentari

Ketika
kebimbangan untuk melangkah adalah iblis

Yang tak pernah puas hingga ku terpuruk

Dalam paradigma yang mencekik jantungku

Dengan perlahan tapi pasti

Waktu adalah dua sisi mata uang

Yang akan menghakimiku nanti

Dengan kepastian takdir yang ku gariskan sendiri dikedua tanganku

Entah aku masih hidup jika kehilangan dirinya

Namun dia tak tahu apa arti ini semua bagiku

Belum….Dia belum tahu…..

Wahai yang terindah……kaulah satu-satunya jawaban

Kaulah yang akan menyinari kegelapan

Dalam sanubariku yang haus akan dirimu

Makassar, 4 Maret 2007; 1:09 am

Andhika Uzumaki

For Hentai Poets Society